Faktakah.com, sebuah inisiatif revitalisasi ekosistem dan lingkungan baru-baru ini diluncurkan di Situ Citatah, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kegiatan bersih-bersih berskala besar ini menggalang partisipasi aktif dari Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Bogor bersama dengan elemen masyarakat setempat, menunjukkan sinergi kuat dalam upaya pelestarian lingkungan. Fokus utama dari operasi ini adalah penangkapan ikan sapu-sapu ( Pterygoplichthys pardalis atau Hypostomus plecostomus), spesies invasif yang dikenal merusak ekosistem perairan.
Dalam rentang waktu yang relatif singkat, sekitar satu hingga dua jam, tim gabungan berhasil menangkap lebih dari 220 kilogram ikan sapu-sapu. Angka ini secara signifikan menyoroti tingkat keparahan invasi spesies tersebut di perairan Situ Citatah, sekaligus menunjukkan efektivitas dari upaya kolektif yang dilakukan. Hasil tangkapan yang masif ini menjadi indikator langsung terhadap kebutuhan mendesak untuk mengendalikan populasi ikan tersebut.
Bupati Bogor, Rudy Susmanto, pada Kamis (21/5/2026), menegaskan bahwa ikan sapu-sapu adalah spesies asing invasif yang memerlukan kontrol populasi ketat. Menurutnya, pertumbuhan populasi ikan ini yang tidak terkendali memiliki potensi besar untuk mengganggu keseimbangan ekosistem dasar perairan secara fundamental. Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi tindakan yang diambil untuk menjaga keberlanjutan lingkungan akuatik.
Ikan sapu-sapu, yang dikenal dengan nama ilmiahnya, merupakan spesies introduksi yang awalnya populer sebagai ikan hias akuarium sebelum akhirnya banyak dilepaskan ke perairan umum. Di lingkungan non-aslinya, ikan ini tumbuh dengan cepat, memiliki daya tahan tinggi, dan minim predator alami, menjadikannya ancaman serius bagi keanekaragaman hayati lokal. Perilaku mencari makan dan menggali dasar perairan yang agresif dapat merusak substrat, mengganggu tempat bertelur ikan asli, dan meningkatkan kekeruhan air.
Dampak ekologis dari proliferasi ikan sapu-sapu tidak hanya terbatas pada kompetisi makanan dan habitat dengan spesies asli. Kerusakan yang ditimbulkan oleh aktivitasnya dapat mempercepat sedimentasi, mengubah struktur dasar sungai, dan bahkan merusak infrastruktur tepi air. Pengendalian populasi ikan invasif semacam ini menjadi krusial untuk mencegah degradasi lebih lanjut pada ekosistem perairan yang sudah rentan.
Selain upaya penangkapan ikan sapu-sapu, kegiatan bersih-bersih ini juga mencakup penyebaran 30 liter eco enzyme ke seluruh area situ. Eco enzyme adalah cairan multifungsi hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran, gula, serta air. Penggunaan eco enzyme ini bertujuan untuk mempercepat proses penguraian zat-zat organik yang tidak diinginkan dan memperbaiki kualitas air secara alami.
Penyebaran eco enzyme merupakan bagian dari pendekatan holistik untuk merehabilitasi Situ Citatah, menawarkan solusi ramah lingkungan untuk masalah pencemaran. Cairan ini dikenal dapat mengurangi bau tak sedap, memurnikan udara, dan membantu membersihkan saluran air dari kotoran. Dengan demikian, eco enzyme berperan penting dalam menciptakan lingkungan perairan yang lebih sehat dan seimbang.
Selaras dengan upaya pembersihan dan perbaikan kualitas air, dilakukan pula penebaran 5.000 bibit ikan lokal ke aliran sungai yang terhubung dengan Situ Citatah. Bibit-bibit ikan ini telah disiapkan secara khusus oleh Dinas Perikanan dan Peternakan Kabupaten Bogor, menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam upaya restorasi ekosistem. Inisiatif ini bertujuan untuk mengembalikan keseimbangan populasi ikan dan mendukung keanekaragaman hayati asli.
Penebaran bibit ikan lokal berfungsi sebagai langkah proaktif untuk mengisi kembali ekosistem dengan spesies yang sesuai dan mendukung rantai makanan alami. Kehadiran ikan-ikan asli ini diharapkan dapat membantu mengendalikan serangga dan alga, serta menciptakan lingkungan yang lebih stabil bagi semua biota air. Ini merupakan investasi jangka panjang untuk kesehatan ekosistem perairan Bogor.
Kegiatan kolaboratif ini tidak hanya berfokus pada tindakan fisik, tetapi juga diharapkan dapat memicu kesadaran kolektif di kalangan masyarakat untuk secara aktif menjaga lingkungan sekitar. Partisipasi publik dalam acara semacam ini sangat penting untuk menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap kelestarian alam. Edukasi dan keterlibatan masyarakat adalah kunci keberhasilan program lingkungan berkelanjutan.
Namun, permasalahan yang dihadapi tidak hanya terbatas pada invasi ikan sapu-sapu. Hasil temuan di lapangan selama kegiatan bersih-bersih juga menunjukkan tingginya tingkat sedimentasi di dasar situ dan banyaknya akumulasi sampah. Fenomena ini memperburuk kondisi perairan dan menimbulkan ancaman serius bagi lingkungan dan masyarakat sekitar.
Sedimentasi yang tinggi di Situ Citatah, menurut Bupati Susmanto, merupakan indikasi adanya erosi tanah dari area di sekitarnya dan aliran material padat ke dalam badan air. Penumpukan sedimen ini dapat mengurangi kedalaman situ, mengubah pola aliran air, dan secara signifikan meningkatkan risiko banjir di musim hujan. Oleh karena itu, penanganan sedimentasi menjadi prioritas utama dalam upaya mitigasi bencana.
Selain sedimentasi, tumpukan sampah yang ditemukan di situ dan aliran sungainya juga menjadi masalah serius. Sampah-sampah ini, yang sebagian besar berasal dari aktivitas domestik dan komersial, tidak hanya mencemari estetika lingkungan tetapi juga melepaskan zat-zat berbahaya ke dalam air. Blokade yang diakibatkan oleh sampah juga dapat memperparah kondisi banjir, menghambat aliran air alami.
Situasi di Situ Citatah mencerminkan tantangan lingkungan yang lebih luas yang dihadapi banyak perairan di perkotaan dan pinggir kota. Kombinasi invasi spesies asing, pencemaran, dan degradasi fisik memerlukan pendekatan multi-sektoral dan berkelanjutan. Upaya yang dilakukan di Situ Citatah ini menjadi model bagaimana pemerintah dan masyarakat dapat bersatu menghadapi krisis ekologi.
Kolaborasi antara Forkopimda, yang mencakup unsur pimpinan daerah, kepolisian, dan militer, dengan masyarakat sipil, menunjukkan kekuatan sinergi dalam penanganan masalah lingkungan. Pendekatan terpadu ini memastikan bahwa sumber daya dan keahlian dari berbagai pihak dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mencapai tujuan bersama. Ini adalah contoh nyata dari tata kelola lingkungan yang efektif.
Bupati Rudy Susmanto menekankan bahwa keberhasilan jangka panjang dari upaya ini sangat bergantung pada partisipasi berkelanjutan dari seluruh elemen masyarakat. "Kita ingin memastikan langsung kondisi di lapangan," ujarnya, menyoroti pentingnya evaluasi langsung dan respons cepat terhadap masalah lingkungan. Kesadaran dan tindakan kolektif adalah fondasi untuk masa depan lingkungan yang lebih baik.
Dengan penanganan sedimentasi, pengurangan sampah, pengendalian spesies invasif, dan restorasi keanekaragaman hayati, Situ Citatah diharapkan dapat kembali berfungsi sebagai ekosistem yang sehat dan lestari. Upaya ini bukan hanya tentang membersihkan sebuah situ, melainkan juga tentang membangun resiliensi lingkungan dan masyarakat terhadap tantangan masa depan, khususnya dalam menghadapi ancaman banjir yang terus membayangi.
Sumber: news.detik.com