Faktakah.com, Kota Bandung kembali dihebohkan oleh sebuah insiden premanisme yang terekam kamera dan menyebar luas di media sosial. Aksi pemalakan yang menyasar pengendara mobil berpelat nomor luar daerah, khususnya "B" yang kerap diasosiasikan dengan Jakarta, terjadi di kawasan Dago Atas yang dikenal sebagai salah satu destinasi wisata dan rekreasi favorit. Peristiwa ini mencoreng citra kota kembang yang dikenal ramah dan damai.
Dalam rekaman video yang beredar, seorang pria bertubuh kekar, yang belakangan diketahui bernama Demon, terlihat melakukan intimidasi terhadap pengemudi. Ia secara terang-terangan meminta sejumlah uang, mengancam akan merusak kendaraan jika permintaannya tidak dipenuhi. Modusnya cukup licik, pelaku awalnya menanyakan asal daerah korban, lalu mengklaim bahwa uang tersebut diperlukan untuk "keamanan" perjalanan korban di Bandung.
Pelaku tampil tanpa busana atasan, hanya mengenakan syal di leher, sebuah penampilan yang mungkin dimaksudkan untuk menambah kesan sangar dan menakutkan. Ancaman yang dilontarkan bukan sekadar gertakan, melainkan disampaikan dengan nada penuh tekanan dan rujukan pada jaringan kejahatan yang terorganisir. "Tambahin tambahin tambahin mau hancur di depan, udah koordinasi sama Demon," demikian penggalan ancaman yang terekam, menunjukkan bahwa ia bahkan menggunakan namanya sendiri sebagai alat intimidasi.
Besaran uang yang diminta bervariasi, namun disebutkan minimal Rp 50.000. Pelaku memberikan pilihan kepada korban untuk menentukan jumlahnya, namun dengan penekanan bahwa jika tidak dipenuhi, konsekuensi berupa kerusakan kendaraan akan menanti. "Terserah berapa aja mau Rp 50 ribu mau berapa terserah. Ya terserah aja," tambahnya, seolah memberikan kebebasan namun dengan ancaman terselubung.
Insiden ini diketahui terjadi pada Sabtu, 23 Mei, di tengah euforia perayaan kemenangan Persib Bandung yang baru saja meraih gelar juara Super League 2025/2026. Momen tersebut seharusnya menjadi ajang kegembiraan kolektif bagi para penggemar setia, Bobotoh, serta seluruh warga Bandung. Namun, aksi premanisme ini justru menjadi noda hitam yang merusak suasana suka cita tersebut.
Diduga kuat, pelaku merupakan oknum yang ikut larut dalam perayaan kemenangan tersebut, memanfaatkan keramaian dan euforia massa untuk melancarkan aksinya. Situasi pasca pertandingan besar memang seringkali rawan akan tindak kriminalitas oportunistik, di mana beberapa individu mengambil kesempatan dari kondisi yang tidak terkendali. Hal ini menunjukkan sisi gelap dari perayaan massa yang kurang terorganisir.
Masyarakat yang geram dengan aksi tersebut dengan cepat menyebarkan video di berbagai platform media sosial, menuntut aparat penegak hukum untuk segera bertindak. Respons polisi tidak butuh waktu lama. Kapolsek Coblong, Kompol Riki Erickson, segera mengkonfirmasi bahwa pelaku telah berhasil diamankan dan sedang menjalani proses pemeriksaan intensif. Kecepatan penanganan ini patut diapresiasi, mengingat dampak negatif yang bisa ditimbulkan jika pelaku tidak segera ditangkap.
Dalam keterangannya, Kompol Riki Erickson menjelaskan motif di balik perbuatan Demon. Pelaku bersama rekan-rekannya diketahui tengah merayakan kemenangan Persib dengan mengonsumsi minuman keras. Di bawah pengaruh alkohol, mereka mungkin mengalami kekurangan uang atau mencari dana tambahan untuk melanjutkan pesta. "Motifnya, jadi pada saat euforia tersebut mereka melakukan minum-minum bersama. Sehingga pada saat itu mungkin kekurangan uang atau bagaimana, mereka meminta uang untuk beli minuman lagi," ungkapnya.
Penjelasan ini menggarisbawahi bagaimana konsumsi alkohol berlebihan dapat memicu tindakan impulsif dan melanggar hukum, terutama dalam situasi euforia massa yang kurang terkontrol. Ini juga menjadi pengingat penting bagi masyarakat dan aparat keamanan untuk selalu menjaga ketertiban, bahkan di tengah perayaan besar sekalipun. Pengaruh minuman keras seringkali menjadi pemicu berbagai tindak kriminalitas.
Pasca penangkapan, potret pelaku saat dibawa ke ruang pemeriksaan menunjukkan perubahan drastis dari sosok "Bang Jago" yang terekam dalam video. Ia terlihat mengenakan kemeja lengan panjang bermotif garis-garis berwarna gelap dan kacamata hitam, berjalan dengan pengawalan petugas. Citra garang yang ditampilkan saat melakukan pemalakan kini terganti dengan penampilan yang lebih tertutup dan terkendali di bawah pengawasan hukum.
Dalam foto lain yang dirilis, Demon tampak duduk berhadapan dengan penyidik, menjalani interogasi dengan wajah tertunduk. Ekspresi ini sangat kontras dengan keberaniannya saat mengintimidasi korban. Hal ini seringkali terjadi pada pelaku kriminal yang tertangkap, di mana keberanian mereka luntur saat berhadapan dengan konsekuensi hukum dan proses peradilan. Kepala yang tertunduk menjadi simbol penyesalan atau setidaknya ketakutan akan jeratan hukum.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi siapa pun yang mencoba memanfaatkan keramaian atau euforia publik untuk melakukan tindak kriminal. Pihak kepolisian berkomitmen penuh untuk memberantas segala bentuk premanisme yang mengganggu ketenteraman masyarakat dan citra kota Bandung. Kehadiran media sosial juga memainkan peran krusial dalam mengungkap dan mempercepat penanganan kasus-kasus serupa, menjadikan pengawasan publik semakin efektif.
Pemerintah Kota Bandung dan kepolisian terus berupaya menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi warganya maupun wisatawan. Insiden seperti ini diharapkan tidak terulang, dan masyarakat diimbau untuk tidak ragu melaporkan segala bentuk kejahatan agar tindakan tegas dapat segera diambil. Penangkapan Demon adalah bukti bahwa tidak ada ruang bagi premanisme di kota yang menjunjung tinggi kebersamaan dan ketertiban.
Sumber: news.detik.com