Beberapa minggu sebelum peristiwa mengerikan pada akhir April tersebut, rumah korban sempat mengalami insiden pencurian. Kejadian ini meninggalkan rasa tidak aman yang mendalam bagi penghuninya, mendorong mereka untuk mengambil langkah antisipatif demi meningkatkan keamanan properti. Pihak berwenang menyoroti insiden sebelumnya sebagai bagian penting dari kronologi yang mengarah pada pembunuhan.
Kabid Humas Polda Riau, Kombes Zahwani Pandra Arsyad, menjelaskan bahwa rumah yang ditinggali oleh Dumaris dan suaminya, Pak Salmon, pernah dibobol maling. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 8 April 2026, di mana bagian kamar utama mereka ditemukan dalam kondisi rusak akibat upaya pencongkelan. Kejadian ini menimbulkan kecurigaan besar di antara keluarga.
Pasangan suami istri tersebut, Pak Salmon dan Ibu Dumaris, sangat terkejut mendapati kamar tidur utama mereka dijebol secara paksa. Tidak ada barang yang hilang secara signifikan yang dapat diidentifikasi secara langsung, namun kerusakan pada pintu kamar mengindikasikan adanya penyusup. Kondisi ini secara alami menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keselamatan mereka.
Dalam upaya memahami siapa yang mungkin terlibat atau apa motif di balik pembobolan tersebut, mereka kemudian menanyakan hal ini kepada putra mereka, Arnold. Diskusi keluarga ini mencerminkan keresahan yang mendalam pasca insiden, sebuah perasaan yang sayangnya berujung pada tragedi yang lebih besar. Kecurigaan yang timbul saat itu ternyata bukan tanpa alasan.
Merasa bahwa keamanan rumah mereka telah terancam, keluarga korban memutuskan untuk mengambil langkah preventif yang lebih canggih. Keputusan untuk memasang sistem kamera pengawas atau CCTV diambil sebagai respons langsung terhadap insiden pembobolan sebelumnya. Harapan mereka adalah perangkat ini dapat memberikan rasa aman dan sebagai pencegahan dari kejadian serupa.
Pemasangan perangkat CCTV tersebut dilakukan pada tanggal 9 April 2026, sehari setelah insiden pembobolan kamar utama. Ironisnya, kamera-kamera inilah yang kemudian menjadi saksi bisu dan kunci utama dalam mengungkap detail-detail mengerikan dari pembunuhan Dumaris Deniwati Boru Sitio. Teknologi ini tanpa disadari telah merekam setiap momen krusial.
Rekaman yang dihasilkan oleh kamera pengawas yang baru terpasang itu akhirnya menjadi bukti tak terbantahkan. Video tersebut, yang kini telah menjadi fokus utama penyelidikan, memperlihatkan secara jelas detik-detik sebelum dan saat aksi pembunuhan terjadi. Petunjuk visual ini sangat berharga bagi kepolisian dalam mengidentifikasi para pelaku.
Insiden pembunuhan itu sendiri berlangsung pada hari Rabu, tanggal 29 April, di siang hari yang seharusnya damai. Korban, Dumaris, ditemukan tewas setelah mengalami serangan brutal menggunakan balok kayu. Kekejaman aksi ini menambah daftar panjang kasus kriminalitas yang menuntut penegakan hukum yang tegas.
Dari analisis mendalam terhadap rekaman CCTV yang tersedia, aparat kepolisian telah berhasil mengidentifikasi dan mengarahkan dugaan pada terduga pelaku. Salah satu nama yang muncul dalam lingkaran kecurigaan adalah menantu korban sendiri, yang diidentifikasi dengan inisial AF. Ini tentu saja menambah kompleksitas dan dimensi personal pada kasus ini.
Rekaman CCTV yang menjadi tulang punggung penyelidikan ini menggambarkan secara detail urutan kejadian yang memilukan. Awalnya, terlihat sebuah mobil berwarna hitam berhenti dan parkir tepat di depan kediaman korban. Kehadiran kendaraan ini menandai permulaan dari rangkaian peristiwa tragis yang akan segera terjadi.
Dari dalam mobil tersebut, terlihat seorang perempuan yang mengenakan kaus berwarna hitam turun dan melangkah masuk ke dalam rumah. Ia kemudian diikuti oleh seorang wanita lain yang memakai jaket berpenutup kepala atau hoodie. Di belakang kedua wanita tersebut, dua orang pria turut menyusul masuk, melengkapi kelompok yang mencurigakan ini.
Tidak lama setelah para pelaku memasuki area rumah, Dumaris Deniwati Boru Sitio, korban, terlihat keluar dari dalam kamarnya. Dengan tenang, ia membuka pintu untuk menyambut wanita berkaus hitam yang pertama kali masuk. Momen ini menunjukkan bahwa korban tidak menaruh curiga sama sekali terhadap kedatangan tamu-tamunya.
Setelah pintu terbuka, wanita berkaus hitam itu terlihat menyalami Dumaris. Kemudian, korban duduk di sebuah kursi, seolah siap untuk berbincang santai dengan para tamunya. Suasana yang tampak akrab dan normal ini justru menjadi latar belakang bagi tindakan keji yang akan segera terjadi, sebuah pengkhianatan yang tak terduga.
Saat percakapan berlangsung, sebuah kejadian yang sangat mengejutkan dan brutal terekam jelas oleh kamera pengawas. Salah seorang pelaku pria, yang saat itu mengenakan kaus berwarna abu-abu dan masker penutup wajah, tiba-tiba melancarkan serangan. Tanpa peringatan, ia menghantam kepala korban dengan balok kayu yang telah disiapkannya.
Pukulan pertama itu diikuti oleh beberapa hantaman balok kayu lainnya secara bertubi-tubi ke arah korban. Dumaris, yang tidak siap menghadapi serangan mendadak tersebut, langsung terkulai tak berdaya di kursi. Aksi kekerasan ini menunjukkan tingkat kekejaman dan premeditasi yang luar biasa dari para pelaku.
Setelah melancarkan serangan brutal, para pelaku sempat mengarahkan pandangan mereka ke arah kamera CCTV yang merekam seluruh kejadian. Kesadaran akan adanya pengawasan mungkin muncul di benak mereka. Namun, alih-alih menghentikan aksinya, pria yang memukul korban itu justru bergerak cepat untuk merusak perangkat CCTV tersebut.
Tindakan merusak CCTV ini jelas merupakan upaya untuk menghilangkan jejak dan bukti kejahatan yang telah mereka lakukan. Namun, rekaman awal yang berhasil disimpan sebelum perusakan tersebut telah cukup untuk memberikan gambaran lengkap kepada polisi. Bukti digital ini menjadi pilar utama dalam membangun kasus terhadap para tersangka.
Penyelidikan yang dilakukan oleh Polda Riau terus berlanjut untuk menangkap semua pihak yang terlibat dalam pembunuhan keji ini. Fokus pada menantu korban, AF, menunjukkan bahwa motif di balik kejahatan ini mungkin berakar pada masalah internal keluarga. Namun, polisi belum merilis detail lebih lanjut mengenai motif pasti atau peran masing-masing tersangka.
Kasus ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya kewaspadaan, bahkan di lingkungan yang paling akrab sekalipun. Kehadiran teknologi pengawasan seperti CCTV memang dapat menjadi alat penting dalam penegakan hukum, namun tidak selalu dapat mencegah tindakan kriminal yang direncanakan dengan matang. Masyarakat menantikan keadilan ditegakkan dalam kasus ini.
Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada kepolisian. Penyelidikan mendalam akan terus dilakukan hingga semua pelaku tertangkap dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku. Kejelasan dan keadilan bagi Dumaris Deniwati Boru Sitio adalah prioritas utama.
Kasus ini juga menyoroti bagaimana kecurigaan awal dari sebuah insiden kecil, seperti pembobolan rumah, dapat menjadi pertanda bagi peristiwa yang lebih besar dan fatal. Respons cepat keluarga untuk memasang CCTV, meskipun terlambat untuk mencegah pembunuhan, terbukti vital dalam mengungkap kebenaran di balik tragedi ini.
Kombes Pandra Arsyad dan timnya berkomitmen untuk menuntaskan kasus ini dengan transparan dan profesional. Setiap bukti akan diperiksa dengan cermat, dan setiap petunjuk akan diikuti hingga tuntas. Harapan masyarakat Pekanbaru adalah agar kejadian serupa tidak terulang dan rasa aman dapat kembali dirasakan.
Sumber: news.detik.com